Dampak Buruk Gamenet dan Game Online


Tulisan ini saya buat sebagai curhat saja dan tidak bermaksud menyinggung siapapun, jadi boleh dibaca, boleh nggak, kalau suka kasih cendol gan😆
Saya termasuk orang yang suka mengamati sekitar dan saya kepikiran tentang satu hal. Kan sekarang banyak sekali ada gamenet (warnet, bagi yang lebih suka sebutan itu) berdiri. Nah, gamer-gamer yang saya jumpai di gamenet itu rada hardcore gamer. Mereka bisa ampe nginep di gamenet, kadang (menurut temen saya) ada yang sampe tinggal di gamenet itu. Mungkin itu memang bukan urusan saya, tapi saya hanya ingin berbagi sedikit dengan pembaca.

Mungkin bagi gamer-gamer, yang begitu sudah biasa. Tapi, seperti yang kebanyakan gamer tahu, keadaan gamenet itu… err… cenderung ga bagus gitu. Bau asap rokok, kurang ventilasi, dan seterusnya. Anehnya, banyak gamer tahan dalam kondisi begitu selama berjam-jam. Asap rokok kan ga enak dihirup, bikin badan bau pula. Apalagi situasinya yang penuh padat karena antar komputer jaraknya kurang lebih 0,5 meter, bahkan kurang. Sesak-sesakan di bus aja ga tahan apalagi di sana?

Kedua, bahasa gamer itu mungkin bisa menduduki peringkat kedua setelah bahasa Marines dalam tingkat kekasaran. Banyak istilah baru muncul dari gamer, yang cenderung kasar (karena memang diucapkan saat kesal karena kalah main DotA) yang tidak perlu saya sebutkan. Padahal ada anak kecil di sana loh! Sudah saya lihat anak kecil kena “racun” karena sudah biasa mendengarnya.

Ketiga, game online itu menanamkan sifat agresif. Mungkin hanya gamer Indonesia yang begitu, karena saya lihat di server luar negeri orangnya ramah-ramah karena memang tujuannya nyari temen. Terutama game tipe FPS (First Person Shooter) macam Counter-Strike. Ini quote dari temenku:

Pantesan terroris nambah banyak, ini pasti gara-gara anak kecil main CS

😆 Quotenya lucu. Tapi, kan game ini menanamkan sifat agresif pada anak-anak yang belum bisa mem-filter nilai baik dan buruk (ada beberapa yang sudah bisa). Game MMORPG juga begitu. Penuh dengan hacker dan cheater. Padahal namanya Massive Multiplayer Online Role-Playing Game, kan tujuannya membangun pertemanan, BUKAN balap-balapan level dan menjadi “dewa” sendiri. Apa gunanya menjadi “dewa” kalau dicapai dengan cara cheat dan bot?

A big man has many friends to support him.

Jadi, anda belum bisa disebut “dewa” bila teman saja tidak punya. Ini mengajarkan jalan pintas bagi orang-orang. Dari cheater mungkin besoknya korupsi. Game online juga membuat kita bisa melupakan pergaulan sosial kita. Kita akan lebih sreg berada di dunia maya ketimbang dunia nyata. Game online bisa membuat kita lebih asertif.

Keempat, pemborosan uang. Saya tidak menyalahkan provider game online karena menyuruh gamernya membeli voucher, karena saya tahu provider game juga perlu hidup. Tapi, voucher game itu hanya memberikan efek sesaat saja, jadi sebaiknya, selama masih mungkin, ga usah beli voucher (kecuali kalau memang ingin). Kebutuhan gamer akan gamenet sepertinya menyalahi Hukum Gossen 1 mengenai kegunaan marginal (marginal utility, maaf nyambung ke Ekonomi :-P).
Berikut bunyi Hukum Gossen 1:

Suatu barang, jika dikonsumsi terus-menerus, kegunaan marginalnya akan berkurang hingga pada suatu saat mencapai titik jenuh

Gamenet seperti zat adiktif, sekali ke sana, pasti mau lagi. Kalau diupamakan gamenet adalah kebutuhan, maka Hukum Gossen 1 tidak berlaku.
Ada beberapa gamer yang menyebutkan gamenet “ini” seperti rumah keduaku. Padahal, tarif gamenet rada mahal. Dan sistem “cyber-billing” membuat mereka terikat di sana untuk menghabiskan jam yang tersisa pada billing. Tapi, kalau waktunya sudah mulai habis, pasti akan ditambah lagi oleh gamer. Kalau ini keterusan, berapa banyak uang habis di gamenet?

Kelima, faktor kesehatan. Seperti sebelumnya, rata-rata gamenet itu sarat dengan asap rokok. Kita semua tahu bahayanya asap rokok. Dan pernahkah kalian berpikir, duduk di depan komputer berjam-jam membuat kita kurang gerak. Dan karena kita diam saja, maka kadang kebutuhan minum akan kita abaikan, karena masih merasa enak-enak saja. Mata kita akan jadi korban karena kita terlalu memfokuskan pandangan pada layar LCD atau CRT selama berjam-jam tanpa melihat tempat lain.

Yah, mungkin segitu saja dulu. Mungkin bisa menjadi pencerahan atau bahan perenungan. Terima kasih sudah membaca🙂

About darksiderzukasa

I am a drifter. I do not belong to anyone. I am a free spirit. My words are not tied to any rules.

Posted on Januari 5, 2010, in Curhat and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: