Antara Guru dan Murid….


Cukup menarik membahas masalah klasik ini, karena isu dan problem selalu ada dalam subjek ini. Sudah umum kita lihat kalo di sekolah itu, sistem PBM (Proses Belajar Mengajar) dominan dikuasai oleh guru. Yah, why not, mereka yang lebih berilmu kan wajar memberi ke yang kurang ilmunya. Tapi itu model zaman dulu, di mana hak siswa belum diperjuangkan dan guru layaknya diktator dalam PBM. Yang ada sekarang, gurunya ga bisa ngoperasikan laptop (no offense😆 )
Tapi selalu saja ada ombang-ambing dalam hubungan guru dan murid. Terutama dalam hal marah-marahan (ga tau bilangnya gimana)

Pernah dengar kejadian siswa memaki gurunya lewat Facebookâ„¢ lalu siswanya dikeluarkan dari sekolah? Nah, begitulah maksud saya. Kadang, guru merasa dirinya sudah superior dan punya hak untuk melakukan hal-hal yang kadang di luar akal sehat tapi berkedok disiplin. Tidak dikaji dulu, kenapa bisa siswanya sampai begitu, malah langsung main kick (dikeluarkan). Berarti hilang sudah 1 hak anak, yaitu mendapat pendidikan, dan juga berarti sekolah lebih melindungi guru daripada siswa.
Seperti yang sering dikatakan orang bijak, “with great power comes great responsibility”, guru mempunyai kekuatan yang besar, yaitu kekuatan untuk membuka masa depan orang. Caranya? Dengan memberikan nilai pada buku kecil yang diterima setiap akhir semester alias RAPORT. Kalo guru yang pelit memberi nilai, atau malah sengaja memberi nilai kecil, bisa-bisa masa depan siswa yang namanya ada di raport itu langsung blank. Jadi, tanggung jawab moral guru besar banget kan? Dan sebagai orang terpelajar, guru seharusnya memakai pendekatan yang lebih rasional dalam menilai muridnya. Secara objektif, bukan atas dasar subjektif seperti hubungan keluarga dan sebagainya.
Guru marah itu biasa. Semua manusia pasti pernah marah. Tapi, jika kasusnya seperti di atas, gurunya juga harus introspeksi diri, “Kenapa dia bisa dikatai seperti itu? Apakah saya memang begitu?”. Jangan hanya langsung menghakimi siswa yang salah.
Pasti di setiap sekolah ada guru yang disenangi dan guru yang dibenci. Siswa akan langsung merasa enak dan comfortable jika diajar guru yang mereka suka, begitu sebaliknya.
Di pihak lain, siswa harus belajar juga memahami orang lain dan menghormati orang lain. Guru itu adalah, dalam agama Hindu, salah satu dari Catur Guru (4 Guru) yang harus dihormati. Hormati guru karena beliau membebaskanmu dari kebodohan. Jadi, jangan suka bertindak seenaknya pada guru. Guru adalah orang tua kalian juga.

About darksiderzukasa

I am a drifter. I do not belong to anyone. I am a free spirit. My words are not tied to any rules.

Posted on Februari 23, 2010, in Tulisan Kecil and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Wih….keren artikelnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: