Dosa-Dosa Sistem Pendidikan


Hey kembali lagi bersama saya yang sudah lama sekali tidak blogging😛
karena banyak urusan sekolah yang harus diselesaikan. Tapi insipirasi muncul ketika saya membaca sebuah buku berjudul “Bu Slim dan Pak Bil” yang ditulis oleh Hernowo dan Chairul Nurdin. Dari sana, saya menemukan kalau sistem pendidikan kita telah banyak melakukan dosa kepada siswa-siswa. “Apa maksudmu??!!” pasti kalian bertanya. Akan saya jelaskan satu-satu deh…

DOSA BESAR #1: SISWA ITU SEPERTI KOMPUTER
Dosa besar yang pertamax (eheh😛 ) adalah TERLALU BANYAKNYA BIDANG STUDI YANG DIAJARKAN. Jadwal mata pelajaran yang dimiliki oleh siswa SMA standar jurusan IPA kurang lebih berisi 14 mata pelajaran, belum lagi termasuk kegiatan extracurricular dan/atau klub. Alokasi waktu per setiap mata pelajaran dipatok kira-kira 2 x 45 menit (untuk beberapa mata pelajaran ada yang 1 x 45 menit). Satu hari sekolah standar adalah kira-kira 7 jam pelajaran, atau 7 x 45 menit = 315 menit (5,25 jam), tidak termasuk kegiatan seperti pemantapan sore dan lainnya. Dalam kurun waktu itu, siswa dipaksa berganti fokus setiap 2 x 45 menit. Secara rasional, tidak ada orang yang sanggup berganti keahlian setiap 90 menit, meskipun professional. Ini ibarat melakukan suatu pekerjaan, lalu meninggalkannya di tengah jalan untuk menyelesaikan yang lain. Hal ini membuat siswa bingung dan capek. Selain itu, demi tuntutan kurikulum dan nilai, siswa HARUS mengikuti semua pelajaran itu meskipun ada yang tidak dia sukai. Emang enak melakukan sesuatu yang ngga kita suka? Siswa dianggap sebagai komputer dengan kapasitas memori up to 1 Terabyte untuk menyimpan semua pelajaran yang disampaikan gurunya😆
Sebenarnya tidak semua pelajaran yang ada dalam kurikulum harus dipelajari. Masyarakat ga pingin kamu jadi ahli dalam segala hal, karena tidak ada yang hebat dalam segala bidang!

DOSA BESAR #2: ACADEMIC RULES!
Dosa besar kedua adalah MENITIKBERATKAN PADA AKADEMIS SEMATA. Dalam sistem pendidikan konvensional, hanya bicara hanya nilai akademis saja. Kepintaran siswa diukur hanya melalui tes-tes akademis yang bisa dicurangi dan diakali dengan konsep “Bersama Kita Bisa!”😆
TAPI, kecerdasan manusia bukan hanya di akademis saja! Ada 8 macam kecerdasan manusia menurut Howard Gardner:

  1. Spasial-Visual
  2. Linguistik-Verbal
  3. Interpersonal
  4. Musikal-Ritmik
  5. Naturalis
  6. Badan-Kinestetik
  7. Intrapersonal
  8. Logis-Matematis

Tapi di sekolah kita bisa kena ejekan “tolol, goblok, bodoh,” kalau tidak bisa memperoleh nilai tinggi test pilihan gandadalam pelajaran akademis. Padahal mungkin kecerdasannya ada di bagian spasial-visual. Tapi sekolah memaksa siswa untuk bertempur di arena yang jelas-jelas bukan bidangnya. Akhirnya, karena kemampuannya “diseimbangkan” maka siswa itu akan menjadi biasa-biasa saja. Padahal kalau kecerdasannya dalam bidang spasial-visual dikembangkan, mungkin saja dia bisa menjadi pelukis seperti Pablo Picasso.

DOSA guruBESAR #3: PURITANISME DAN MEKANISTIS
Di Indonesia bisa kita lihat cara mengajar guru-guru yang terlalu monoton. Example! Guru masuk, ambil spidol/kapur, mulai ceramah dan/atau nulis di papan seperlunya, siswa mencatat, lalu diberikan contoh soal/latihan. Ini akibat pemikiran puritanisme, di mana menurut kaum puritan, belajar itu kegiatan yang suram, disiplin, dan penuh hafalan, begitu menurut Dave Meier. Mana bisa orang belajar dengan enak kalo lingkungannya SURAM kayak gitu?
Oops, kayaknya agak melenceng nih😛
Munculnya dosa ini akibat sekolahan yang disulap menjadi “pabrik”. Siswa adalah bahan bakunya, kurikulum adalah pedoman kerja, dan guru adalah manager sekaligus supervisor. Juga karena pemikiran modern/mekanistis dari Newton dan Descartes serta penemuan mesin cetak oleh Gutenburg makin mempengaruhi sistem pendidikan menjadi seperti sekarang. Menurut pemikiran mekanistis, alam bekerja tidak secara holistik, tapi terpisah-pisah. Hal ini mempengaruhi pembuatan kurikulum yang akhirnya berimbas ke bidang studi. Contoh nyatanya, apabila belajar Fisika hanya diberikan rumus-rumus gila yang susah dicerna, tetapi kita tidak tahu apa fungsinya dalam kehidupan nyata. Di sini kelihatan kan, belajar Fisika ya Fisika doang, ga perlu dikaitkan ke kehidupan nyata segala, toh kerjanya terpisah. Jadinya, antara sekolah dan dunia nyata seperti dua dunia parallel yang tidak terhubung.

DOSA BESAR #4: MELATIH DAN MEMBANGUN EGOISME TINGKAT TINGGI
Hukum tak tertulis di sekolah adalah “Belajarlah dan bersaing dengan temanmu”. Mungkin maksudnya membangun sistem rivalry, di mana dari persaingan akan timbul kemajuan. Tapi ini mendidik siswa untuk menjadi individualis, karena meskipun terkadang saat ulangan ada “koalisi”, mereka hanya aji mumpung untuk mendapatkan jawaban. Penelitian di University of Minnesota membuktikan kalau belajar itu lebih enak berkelompok, baik kualitas dan kuantitasnya. Orang lain bukan saingan, melainkan partner. Saingan bisa menusuk kamu dari belakang, sedangkan partner loyal pada tujuan bersama. Lagian, emang enak kalo semua orang jadi saingan? Kapan temenannya??

Nah itu 4 DOSA BESAR sistem pendidikan kita. Mungkin bakal nambah lagi. Mungkinkah kita merevolusi pendidikan agar benar-benar menghasilkan peserta didik yang bermutu dan humanis (bukan hasil rakitan pabrik) ? Mungkin, suatu saat nanti…

Materi tulisan blog ini bersumber dari buku “Bu Slim & Pak Bil” hasil karya Hernowo dan Chairul Nurdin. 

About darksiderzukasa

I am a drifter. I do not belong to anyone. I am a free spirit. My words are not tied to any rules.

Posted on Maret 22, 2010, in Tulisan Kecil and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Bukannya diseimbangkan tapi “dipaksa” menyeimbangkan :p

  2. SETUBUH gaan!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: