Yuk, Mengenal Lebih Dalam Tentang Kebiasaan Membungkuk!



Bagi yang sering mengikuti pelajaran kebudayaan Jepang, mungkin kalian akan menemukan tentang ojigi alias kebiasaan membungkuk. Ternyata, kebiasaan membungkuk itu tidak hanya ada di Jepang saja, tapi dipraktikkan secara luas di seluruh dunia. Meski lebih umum ditemui di daratan Asia Timur, kebiasaan ini ternyata juga ditemui di daratan Eropa di kalangan bangsawan/aristrokrat.
Pertama-tama, mari kita mempelajari kebiasaan membungkuk di daratan Eropa.

Di Eropa, praktik membungkuk, atau lebih dikenal sebagai bowing, hanya ekslusif untuk kaum pria. Kaum wanita melakukan sesuatu yang disebut dengan curtsey. Namun, dalam sebuah pentas opera, saat curtain call, atau akhir pentas, pemainnya juga membungkuk, sebuah pertanda terima kasih kepada penonton. Kaum pria di Eropa dituntut untuk melakukan apa yang disebut dengan scraping, yaitu kaki kanan ditarik pelan-pelan ke belakang saat membungkuk, sehingga meyebabkan kaki seperti “mengais” tanah. Dari sana, muncullah istilah bowing and scraping. Saat melakukan bowing and scraping, tangan kiri harus ada di dada dan tangan kanan terjulur ke depan.
Pada cerita klasik abad pertengahan, terlihat bahwa orang-orang macam Musketeer, jester, atau bard yang sering melakukan ini. Bowing and scraping ini merupakan sebuah tanda seorang gentleman, atau sebuah tanda penghormatan yang cukup tinggi. Sampai sekarang, bowing and scraping ini masih dipraktikkan, seperti di Inggris, saat seseorang menghadap Ratu atau petinggi lainnya, namun cara ini sering dianggap terlalu over, meski cukup menyenangkan untuk dilihat.

Di daratan Asia, membungkuk adalah sebuah tanda hormat. Selain memberikan hormat, membungkuk juga dapat digunakan untuk menunjukkan penyesalan, rendah hati, atau ketulusan. Membungkuk sudah lama menjadi bagian dari budaya Asia Timur seperti di Jepang, Taiwan, dan Korea.

Kebiasaan membungkuk di Asia umumnya terbagi dalan 3 jenis: informal, formal, dan sangat formal. Ketiganya dapat dibedakan dari sudut bungkuknya. Untuk informal sekitar 15 derajat, formal sekitar 30 derajat, dan sangat formal hingga 90 derajat atau lebih, hingga dahi menyentuh tanah.
Untuk keperluan menyapa seseorang, biasanya digunakan bungkukan yang sesuai dengan derajat orang yang ada di hadapan kita. Misalnya kita berhadapan dengan kaisar, maka perlu digunakan bungkuk sangat formal. Bungkuk hingga dahi menyentuh tanah di Jepang dikenal sebagai dogeza, dan digunakan untuk meminta maaf secara ekstrim atau sebagai penghormatan tertinggi.

Seiring perkembangan zaman, telah terjadi sebuah pembauran kebudayaan antara Barat dan Timur. Orang barat lebih sering berjabat tangan saat bertemu. Orang timur cenderung membungkuk. Pembauran budaya ini menghasilkan sebuah salam yang disebut bow and handshake. Contoh yang paling nyata adalah saat Presiden Obama mengunjungi Kaisar Jepang. Tapi, dengan berkembangnya pengetahuan orang barat mengenai kebiasaan membungkuk di Timur, maka sekarang orang Barat cenderung membungkuk.

About darksiderzukasa

I am a drifter. I do not belong to anyone. I am a free spirit. My words are not tied to any rules.

Posted on Mei 24, 2011, in Budaya and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: