Keanehan Seputar Tes Potensi Akademik



Pernah mendengar kata TPA? Bukan, bukan Tempat Pembuangan Akhir, tapi Tes Potensi Akademik. Itu loh, tes yang muncul setiap ada SNMPTN atau yang sekarang populer sebagai tes masuk SMA. Tapi yang khusus saya bahas adalah TPA untuk masuk SMA karena tes ini sangat aneh. Kenapa saya bilang aneh? Itu karena…
Oke, pertama kita mencoba meninjau arti kata Tes Potensi Akademik. Secara harfiah saja, tes yang dipergunakan untuk mengukur potensi akademik seseorang. Maksud “potensi akademik” di sini adalah perkiraan kemampuan seseorang untuk mengikuti proses akademik (belajar-mengajar). Sudah mengerti?

Umumnya, TPA membahas mengenai kemampuan dasar yang harus dimiliki seseorang agar bisa mengikuti proses akademik secara baik, seperti kemampuan verbal, logika analitik, kemampuan kuantitatif dan kemampuan spasial. Dengan psikotes sebagai landasannya, secara tidak langsung, TPA mengimplementasikan prinsip “Multiple Intelligence” milik Howard Gardner karena menguji berbagai macam kecerdasan. TPA dapat diterapkan di mana pun dan sangat versatile. Sebagai contoh, TPA macam ini digunakan untuk tes CPNS. TPA macam ini sangat cocok untuk memetakan kemampuan seseorang.

Nah, sekarang mulai ke pokok bahasan. Pernah anda melihat TPA untuk masuk SMA? Supaya lebih mengkhusus, saya pakai contoh soal TPA SMA di Bali saja. Dalam penerimaan siswa baru SMA, beberapa sekolah mempergunakan TPA. Yang menggunakannya pun sekolah-sekolah level tinggi yang diakui pemerintah alias negeri tingkat tinggi. Di sini, tampak keanehan TPA. Yaitu pengujian berbagai mata pelajaran. Tidak ada unsur pengujian kemampuan verbal, analitik, logika, spasial ataupun kuantitatif. Yang ada hanyalah Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, IPA dan IPS. Lah, kalau begitu apa bedanya dengan UN SMP?

Di sini, terlihat salah kaprah penggunaan terminologi “TPA”. Di mana TPA seharusnya menjadi sebuah tes untuk memprediksi seberapa besar potensi kemampuan seseorang, malah menjadi ajang adu rumus cepat, teori, dan cepat-cepatan menghitung. Jika TPA seperti ini, maka wajar saja orang dengan latar belakang pendidikan bagus pasti berhasil masuk, yang tidak bisa, silakan menangis.

Memang, dengan cara seperti itu, sekolah dipastikan mendapatkan siswa bermutu dan bisa mengharumkan nama sekolah di ajang nasional bahkan internasional. Namun bagaimana dengan siswa lainnya yang gugur? Mereka punya potensi untuk bersinar seperti siswa pintar lainnya, tapi malah gagal sebelum bisa menunjukkan bakatnya.

Kalau kita tinjau tingkat kesulitan soal-soal TPA SMA tersebut, terdapat banyak soal yang tingkat kesulitannya untuk SMA kelas X. Nah, ini tidak adil kan? Kalau siswa juara Olimpiade sih, tidak masalah dengan soal seperti ini, tapi bagaimana dengan siswa-siswa standar lainnya yang bermimpi masuk SMA yang bagus? Jadinya mereka sudah tersingkir duluan oleh para juara Olimpiade yang memang memiliki pengetahuan dan kemampuan yang “lebih” dari mereka, dan juga karena siswa SMP standar sudah tentu belum diajarkan materi kelas X SMA.

Beginilah potret sekolah-sekolah yang hanya mengejar mutu semata dengan mengorbankan kesempatan bersinar siswa-siswa yang berpotensi. Seharusnya, sekolah-sekolah mengganti “TPA” dengan Tes Potensi Akademik yang sebenarnya, agar siswa-siswa mendapatkan kesempatan yang merata untuk memperoleh ilmu dengan fasilitas yang bagus. Sudah saatnya memberikan kesempatan yang sama rata dengan menggantikan Tes Pengetahuan Akademik dengan Tes Potensi Akademik yang sebenarnya. Menerima siswa yang benar-benar pintar memang bagus, tapi bukankah perbedaan antara bodoh dan pintar itu setipis kertas? Terkadang, ide-ide brilian muncul dari orang bodoh.

About darksiderzukasa

I am a drifter. I do not belong to anyone. I am a free spirit. My words are not tied to any rules.

Posted on Mei 27, 2011, in Sosial and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. T…P…A…
    Tahukah anda bahwa sebenarnya tes TPA hanya mengacu pada tes kemampuan berpikir…
    Dan apakah yg terjadi….?
    Yang lulus TPA dan masuk sekolah yg bagus hanyalah orang yang pintar secara AKADEMIK, dan secara PSIKOLOGIS tidak diketahui…
    Sehingga tidak jarang justru orang tersebut malah mencoreng nama sekolah…
    Tidak sadarkah kita bahwa semua program pemerintah hanya mengacu pada segi REALITAS, tapi untuk segi MENTALITAS hanya dijalankan oleh perkumpulan keagamaan…
    Seharusnya kita juga sadar bahwa sesuatu berawal dari budi pekerti kita…
    Oleh karena itu, dengan meningkatkan budi pekerti kita, kita bisa membangun negeri ini bahkan dri keterpurukan yg paling dalam sekalipun…
    KESIMPULANNYA: TPA seharusnya dibarengi oleh TPP (Test Potensi Psikologis)…
    tapi kendala utama adalah “apakah kita semua jujur dan tidk munafik?”…

  2. Duh setuju bgt ><

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: