Seorang Anak dan Rp 10.000



Cerita ini aku dapat dari forum Kaskus, tapi saya lupa thread spesifiknya. Dan aku menceritakan kembali ceritanya semirip aslinya, karena tidak memakai copy paste.
Oke, begini ceritanya:

Suatu hari, seorang anak menangis di depan rumahnya. Bapaknya mencoba menenangkannya dan bertanya, “Apa yang terjadi anakku?”
Anak itu menjawab, “Aku kehilangan uangku sebanyak Rp 10.000,”
Bapaknya mengeluarkan dompet dan memberikan anaknya uang sebanyak Rp 10.000 sambil berkata, “Ini nak, bapak ganti uangmu yang hilang, jadi jangan nangis ya,”

Anak itu berhenti menangis sebentar. Bapaknya kemudian meninggalkannya. Tak lama kemudian, ia menangis lagi. Datanglah pamannya.

Ia bertanya, “Kenapa kamu menangis?”
Anak itu menjawab, “Aku kehilangan uang Rp 10.000,”
Pamannya bingung dan membalas, “Loh, bukankah di tanganmu ada Rp 10.000? Kenapa kamu bilang kamu kehilangan?”
Anak itu menjawab, “Jika saja aku tidak kehilangan Rp 10.000, uangku sekarang sudah Rp 20.000,”

Pamannya menghela nafas panjang, dan memberikan uang sebanyak Rp 20.000 kepada anak itu. Anak itu diam sebentar dan pamannya pergi meninggalkannya. Anak itu mulai menangis lagi. Kali ini, datanglah kakeknya.

“Cucuku, kenapa kamu menangis?” tanya kakeknya.
“Aku kehilangan Rp 10.000,” jawabnya sesenggukan.
“Lalu, mengapa ada Rp 30.000 di tanganmu?” tanya kakeknya.
“Kalau saja aku tidak kehilangan Rp 10.000, uangku sekarang sudah Rp 40.000,” jawab anak itu.

Apakah anda bisa menangkap maksudnya? Iya, anak itu adalah cerminan diri kita sendiri. Cerminan bahwa sebenarnya diri kita sangat rakus. Kita terus memaksa diri kita berpikir bahwa kita kehilangan atau belum punya, padahal sebenarnya kita sudah berkecukupan. Manusia selalu memikirkan apa yang mereka belum punya, bukan memikirkan apa yang saat ini mereka miliki. Semuanya serba kekurangan! Aku ingin lebih! Itulah paham yang diajarkan dunia kapitalisme modern saat ini. Bahwa manusia hidup selalu mengejar kekurangan, dan tidak boleh berpuas diri dengan apa yang dimiliki. Terutama dari sisi materi.

Orang yang memiliki banyak uang, bahkan sampai membangun gedung besar untuk menyimpan uangnya, akan selalu merasa dirinya kekurangan uang.
Begitu melihat orang lain membawa Lamborghini, kita berpikir bahwa kita juga harus memilikinya. Padahal di garasi anda masih ada Colt tua yang bisa berjalan.
Saat melihat anak lain memakai sepeda fixie, anda berpikir bahwa anda juga harus memilikinya. Padahal di gudang anda ada MTB yang masih bagus.

Kita terlalu sering melihat orang lain, bukan diri kita sendiri. Kita sibuk terkagum-kagum dengan “kehebatan” orang lain, dan berpikir harus menirunya. Tapi kita tidak pernah melihat diri sendiri dan segala kelebihan yang kita miliki. Karena itulah, kata “trend”, “gaul”, dan semacamnya… hanyalah kebodohan semata. Jadilah diri sendiri, asah kelebihan diri, jangan terlalu peduli dengan kritik orang lain, ikuti jalan anda sendiri. Mungkin anda tidak akan sukses seperti orang lain, mungkin anda tidak akan kaya, tapi setidaknya anda bisa menjalani hidup sebagai diri sendiri, bukan sebagai peniru orang lain.

Iklan

About darksiderzukasa

I am a drifter. I do not belong to anyone. I am a free spirit. My words are not tied to any rules.

Posted on Juni 6, 2011, in Curhat, Indonesia and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. tahukah kita, kita pertama kali diciptakan hanya bisa merasakan kasih sayang…..
    tapi setelah kita bisa melihat, kita merasa sangat senang…..
    namun kita juga merasa diri kita sama dengan yg lain sehingga kita takut jika menjadi sesuatu yg berbeda….
    kita juga sering ditakuti oleh orng lain jika kita menjadi sesuatu yg berbeda…..
    oleh karena itu kita mengikuti sesuatu yg disukai banyak orang, sehingga kita merasa bahwa kita tidak akan sendirian….
    tapi menurut saya, bukankah sangat aneh jika kita selalu mencari persamaan antara yg satu dengan yg lain…
    padahal dalam hidup, kita bisa saling mengisi karena kita berbeda….
    cobalah bayangkan apa yg terjadi jika semua ingin menjadi produsen ataupun konsumen….
    kita sebagai manusia tentunya tahu bahwa keseimbangan itu penting….
    bahkan hukum alam sekalipun masih jauh lebih baik daripada hukum “trend”…
    karena hukum alam mengatakan “yg terkuatlah yg menang”, namun tidak mengatakan “selain yg terkuat akan binasa”….
    sementara “trend” mengatakan “yg tidak sesuai dengan trend akan binasa”…
    smoga apa yg saya sampaikan bisa berguna dan tidak menuai protes dari siapapun…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: