TKI ke Arab, Apa Masih Perlu?



Kasus TKI semakin ramai saja dibicarakan di media massa. Sejak pemancungan terhadap Ruyati, kini banyak TKI lain dikatakan menunggu nasib yang sama. Saya memang bukan pejuang HAM, tapi setelah membaca cerita para TKI tersebut dari media massa, saya mulai memikirkannya. Saat membaca berita di Kompas, saya menemukan sebuah berita yang cukup mewakili apa yang ingin saya sampaikan. Inilah beritanya langsung dari sumber.

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didesak segera melakukan langkah pembelaan terhadap 28 tenaga kerja Indonesia (TKI) yang kini menunggu hukuman mati di Arab Saudi.

Desakan disampaikan Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah, yang ditemui di kantornya, Rabu (22/6/2011). “Hentikan saling tuding dan berpolemik soal kematian Ruyati yang dihukum mati. Lakukan langkah membela dan melindungi 28 TKI lainnya yang bakal bernasib sama dengan Ruyati,” tandas Anis.

Ia mendesak Presiden segera melakukan langkah nyata. “Jangan cuma sibuk beretorika dan membela diri dari tudingan. Bayarlah kesalahan yang menyebabkan kematian Ruyati dengan menyelamatkan 28 TKI lainnya,” kata Anis.

Menurut dia, ke-28 TKI yang terancam hukuman mati di Arab Saudi adalah Sulaimah, Siti Zaenab Duhri Rupa, Muhammad Zaini asal Madura. Dwi Mardiyah, Nurfadilah, Suwarni, Hafidz Bin Kholil Sulam, Nursiyati asal Jawa Timur.

Eti Thoyib Anwar, Yanti Irianti, Karsih, Ruyati, Darsem, Emi, Nesi, Rosita Siti, Saadah, Jamilah asal Jawa Barat serta Satinah asal Jawa Tengah.

Dari Kalimantan Selatan tercatat Aminah Budi, Darmawati Tarjani, Muhammad Niyan, Abdul Aziz Supiyani, Muhammad Mursyidi, dan Ahmad Zizi Hatati. Dari Kalimantan Barat tercatat Sulaimah.

Dua TKI lainnya belum diketahui asal daerahnya, yaitu Nurmakin Sobri dan Ahmad Fauzi. Sejumlah TKI yang ditemui di rumah pondokan Migrant Care di Jakarta Timur mengakui, hidup bagai budak bekerja di Arab Saudi.

“Mereka memuaskan nafsu seks dan nafsu membunuhnya pada kami,” ungkap tenaga kerja wanita (TKW) Imas Tati (22).

Dua tahun lalu perempuan asal Majalengka ini bekerja di Kuwait. Di sana dia beberapa kali lolos dari pemerkosaan majikan dan para ponakannya. Terakhir, ia berusaha lolos dari pemerkosaan dengan turun dan jatuh dari lantai tiga apartemen majikannya.

Tulang punggung bagian tengah remuk, kedua tulang sendi telapak kaki patah. Nasib serupa dialami rekannya, Dewiyanti asal Brebes, dan Muslimah asal Tegal Gubuk, Indramayu, Jawa Tengah.

Imas mengatakan, di Arab Saudi, para pembantu perempuan Indonesia diperlakukan sebagai budak. “Dianiaya dan diperkosa berulang kali oleh majikan dan keluarganya, dijual dan diperas agen-agen penyalur pembantu rumah tangga. Itulah pengalaman saya dan sebagian besar kawan-kawan satu pekerjaan di Arab Saudi,” papar Imas.

Rosnani (48), TKW yang duduk di samping Imas, membenarkan. “Kalau sudah tua seperti saya, orang-orang itu engga doyan. Sebagai gantinya, saya diperas bekerja 22 jam setiap hari tanpa libur. Dipukuli, disekap, diludahi, dilempar ke comberan. Saya tidak tahan, akhirnya kabur pulang ke Indonesia dengan uang sendiri. Lolos dari agen juga sudah mujur,” tuturnya.

SUMBER

Naas sekali nasib para “pahlawan devisa” kita di luar negeri ya? Apa memang benar begitu yang harus mereka alami untuk menyumbang pada negara? Kalau memang begitu, lebih baik tidak usah memberangkatkan TKI lagi ke Arab. Hanya menambah luka negara dan korban jiwa saja.

Tapi, entah apa yang ada di pikiran pemerintah hingga membentuk satuan tugas (satgas) untuk menangani ini. Politik memang membuat semuanya menjadi kacau dan ruwet!

Yang menjadi pertanyaan saya adalah, apakah masih perlu kita mengirimkan TKI ke Arab?

Pengiriman TKI ini mungkin tak ubahnya seperti human trafficking berlisensi resmi. Namun yang lucu adalah, mengapa TKI hanya di-export sebagai pembantu rumah tangga? Apa tidak ada profesi lain yang bisa dikerjakan oleh TKI selain menjadi pembantu rumah tangga? Mungkin karena itulah, kebanyakan TKI yang dikirim tidak mempunyai latar belakang pendidikan tinggi. Selain itu, mungkin demand pembantu rumah tangga di Arab cukup tinggi. Situasi ekonomi inilah yang menjadi pupuk subur bagi pengiriman TKI ke Arab.

Kedua, negara mendapat devisa yang cukup besar dari TKI, sekitar Rp 39,3 triliun per tahunnya atau hampir $44,37 juta (sumber data). Jumlah itu cukup besar bagi negara berkembang dan menjadi alasan utama pengiriman TKI ke luar negeri. Tapi jangan tanya saya uangnya ke mana.

Kini, masuk ke topik utama, masih perlukah TKI dikirim ke Arab (atau luar negeri)? Menjawab pertanyaan itu gampang-gampang susah, dan akan lebih susah lagi jika disangkutpautkan dengan ekonomi dan politik, jadi kita melihatnya dari sisi humanis saja.

Setelah seringkali mendengar berita tidak mengenakkan tentang perlakuan negara Arab kepada TKI kita, pasti kita berpikir TKI tidak perlu dikirim lagi! Buat apa mereka menderita demi segepok uang (yang belum tentu dibayarkan)? Bukankah lebih baik tinggal di negeri sendiri dan membangunnya daripada pergi bekerja di negeri orang?

Untuk masalah ini, pemerintah boleh disalahkan karena masih dibutakan oleh “modernisasi” hingga meninggalkan potensi terbesar Indonesia yaitu pertanian. Dengan luasnya wilayah, tentu pertanian akan banyak menyedot tenaga kerja. Bayangkan, Bolivia, negara yang jauh lebih dari kita, sudah mulai berswasembada pangan! Kita juga pernah, pada masa alm. Soeharto, tapi itu hanya bertahan sebentar saja. Sekarang kita lihat fakultas pertanian di universitas semakin minim peminat, semuanya ingin jadi dokter.

Dari sisi lain, untuk apa kita mengirimkan TKI ke Arab? Mengapa tidak memakai tenaga putra bangsa sendiri untuk membangun negara sendiri? Saya heran dengan pola pikir TKI yang ingin bekerja di daerah penuh konflik dan gersang seperti Arab. Tapi lagi-lagi semuanya kembali pada tidak tersedianya lapangan kerja di Indonesia.

Terus mengirimkan TKI, meskipun tahu nasib yang akan mereka alami, sama saja seperti mengirim seseorang untuk mati. Pemerintah belum melakukan langkah nyata untuk melindungi nasib TKI di luar negeri. Pemerintah hanya bisa berteori saja tentang langkah-langkah yang utopis tanpa realisasi. Lebih baik hentikan saja pengiriman TKI ke luar negeri dan fokus membangun mesin devisa di dalam negeri. Mungkin saat kita memutuskan untuk moratorium TKI, negara Arab kembali pada kita, mengemis agar kembali dikirimi tenaga kerja. Mungkin saja.

About darksiderzukasa

I am a drifter. I do not belong to anyone. I am a free spirit. My words are not tied to any rules.

Posted on Juni 28, 2011, in Indonesia, Sosial and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. ASSALAMU ALAIKUM
    ALHAMDULILLAH HIROBBIL ALAMIN
    atas RAHMAT SERTA HIDAYAH RIDHO DARI ALLAH SWT.serta berbekal ILMU KEWALIAN KAROMAH,KESAKTIAN SEJATI,serta izin dari para guru/leluhur dengan melakukan tapa brata,beliau hadir untuk membantu anda yg sa’at ini dalam MASALAH HUTANG BESAR, BUTUH MODAL BESAR, INGIN MERUBAH NASIB,BANGKRUT USAHA,DI CACI MAKI,DI HINA,MENYENGSARAKAN/MENZHOLIMI ANDA ,JANGAN PUTUS ASA,INI SAATNYA ANDA BANGKIT DARI KETERPURUKAN, RENTANGKAN SAYAPMU,RAIH DUNIAMU, IMPIANMU,KEJAR CITA CITAMU,AGAR ORANG LAIN TIDAK LAGI MENGHINAMU,
    BELIAU SIAP MEMBANTU ANDA DENGAN
    -JUAL MUSUH
    -UANG GOIB
    -NIKAH JIN
    -MENGGANDAKAN UANG
    -UANG BALIK
    -BULU PERINDU
    -PENGASIHAN
    -PELET HITAM
    -PELET PUTIH
    -SANTET MATI
    -GENDAM PENAKLUK
    -ANGKA/SIO JITU
    hanya yg serius saja
    hubungi beliau :
    KH SA’ID ABDULLAH WAHID
    (AHLI ILMU GO’IB)

    HP: 082334608008

    D/A : BATU AMPAR-GULUK GULUK –
    SUMENEP – MADURA JATIM
    di jamin 100% sukses & berhasil , bebas agama/keyakinan
    proses cepat tepat terpercaya

    TERIMA KASIH WASSALAM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: