Materialist vs Spiritualist


Ajahn Brahm

Aku mendapat cerita ini dari buku karangan Ajahn Brahm yang berjudul “Opening the Door of Your Heart”. Buku ini menjadi best seller dunia dan terbit di Indonesia dengan judul “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya”. Isi buku ini sangatlah bagus untuk pencerahan spiritual karena berisikan cerita-cerita yang langsung menyinggung kehidupan nyata. Salah satunya, yang menurutku sangat bagus, adalah cerita tentang nelayan dan pebisnis. Ceritanya sangatlah menyentuh kehidupan nyata, dan menggambarkan kelakuan manusia yang terlalu dibutakan oleh materi.

Buku "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya"


Ceritanya seperti ini, saya menceritakan kembali saja semirip mungkin dengan bukunya:

Di sebuah desa nelayan, seorang nelayan baru saja pulang melaut saat pagi hari. Kebetulan nelayan itu dilihat oleh seorang profesor jurusan bisnis universitas terkenal. Merasa tergelitik dengan kelakuan nelayan itu, profesor itu menghampirinya untuk memberikan nasihat gratis.

Professor: “Hei, mengapa kamu pulang dari melaut di pagi hari?”

Nelayan: “Saya sudah cukup menangkap ikan untuk kebutuhan keluarga saya, dan ada sisa sedikit untuk dijual. Setelah ini, aku akan makan siang dengan istri saya lalu tidur siang sejenak. Sore hari, aku akan bermain dengan anak-anakku, dan malamnya pergi ke bar untuk minum sedikit bir dan bermain gitar.”

Professor: “Dengarkan aku dulu kawan! Jika kamu pergi melaut sampai sore, kamu bisa mendapatkan ikan 2x lebih banyak! Dengan begitu kamu bisa mendapat untung lebih banyak! Dalam hitungan bulan, kamu sudah bisa membeli kapal dan menggaji awak kapal untuk menggandakan penghasilanmu! Lanjutkan terus, dan kamu bisa membeli kapal kedua dengan lebih banyak awak! Setelah beberapa tahun, kamu bisa membangun sebuah imperium bisnis dan menjadi CEO! Dengan uang yang sudah kamu kumpulkan, kamu bisa jadi kaya raya dan pensiun dini!”

Nelayan itu mendengarkan setiap kata profesor tersebut dengan seksama. Lalu ia bertanya.

Nelayan: “Lalu, saat saya sudah kaya raya dan pensiun, apa yang akan aku lakukan?”

Professor itu sempat kebingungan, karena memang belum memikirkan kelanjutannya. Jadi, ia menebak-nebak apa yang akan terjadi.

Professor: “Kamu bisa membeli rumah di pinggir pantai dan sebuah kapal kecil untuk melaut dan menangkap ikan di pagi hari. Setelahnya kamu bisa makan siang dengan istrimu, tidur siang, dan bermain dengan anak-anakmu. Sorenya kamu bisa minum-minum di bar dan bermain gitar. Kamu bisa hidup senang!”

Selanjutnya, nelayan itu mengatakan sebuah kalimat yang memiliki makna sangat dalam.

Nelayan: “Tetapi, Professor, bukankah sekarang ini saya bisa begitu?”

Saya ulangi lagi kata-kata nelayan itu: “Tetapi, Professor, bukankah sekarang ini saya bisa begitu?”
Baca cerita itu sekali lagi, dan resapi maknanya.

Kebanyakan orang merasa diri mereka baru bisa bahagia dan senang saat mereka sudah kaya raya. Inilah pandangan orang materialistis. Dalam cerita itu, si Professor adalah gambaran dari kita saat ini. Kita mengejar harta dengan “harapan” akan bahagia kelak. Kenyataannya, kita tidak pernah bahagia. Setelah 1 keinginan terpenuhi, muncul keinginan lain yang lebih besar yang tentunya perlu uang lebih banyak lagi. Begitu seterusnya. Kapan kita mau bahagia jika selalu mendahulukan keinginan materialistis kita?

Kita tidak perlu menjadi kaya raya dulu untuk menjadi bahagia. Kita cukup melakukan apa yang kita senangi dan menjalani hidup sewajarnya.

About darksiderzukasa

I am a drifter. I do not belong to anyone. I am a free spirit. My words are not tied to any rules.

Posted on Juli 26, 2011, in Indonesia, Tulisan Kecil and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. kalo prof nya ngomong :”pak kalo bapak sudah kaya..bapa bisa memajukan masa depan anaknya” gimana ._.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: