The Next Step


PERHATIAN. Sebelum membaca lebih lanjut, anda telah diperingati bahwa post berikut tidak terlalu penting. Jika memang ragu membaca, silahkan kunjungi artikel lain di PersonaLity.

Akhirnya. Dalam beberapa hari, aku kuliah. Teman baru, sekolah baru, dan asiknya, identitas baru. Iya, identitas baru. Itu enaknya melangkah ke jenjang berikutnya. Meski masih ada beberapa sahabat yang ikut serta dan mengetahui identitas lama kita, tapi lebih banyak orang baru yang memungkinkan aku membentuk sebuah identitas baru.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa aku suka sekali, mencari identitas baru? Mungkin hanya sebagai penyegaran. Kita tidak harus selalu menjadi orang yang sama seumur hidup. Ada banyak topeng dalam hidup yang bisa kita gunakan, lalu buang, lalu pakai lagi saat diperlukan. Seperti mengganti senjata sesuai kondisi. Tentunya, kepribadian mungkin susah diubah. Menjadikan diri baru itu lumayan enak. Kita bebas mengganti apapun pada diri, jadi jangan terlalu terpaku pada suatu “cap” yang sudah diberikan orang lain atau diri sendiri.

Melangkah lebih lanjut juga berarti melepas derita.

Loh, melepas derita?? Maksudnya?? Ya, melepas derita. Lalu menggantinya dengan derita baru.
Saat melangkah, pastinya kita juga harus mengganti derita kita yang lama (dalam kasus ini, derita anak SMA) menjadi derita baru (dalam kasus ini, derita mahasiswa baru). Iya kan? Mengerti maksud saya kan? Apalagi aku masuk universitas dengan asrama, tambah derita saja, artinya aku harus beradaptasi dengan lingkungan baru lagi. Itulah gunanya sahabat di sampingmu, biar ada teman se-penderitaan! Hahaha..

Ngomong-ngomong soal kuliah, aku banyak sekali mendapat informasi dari sana-sini tentang mitos-mitos kuliah. Aku tidak mungkin tahu yang mana benar dan yang mana bullshit, tapi asik juga mendengar apa yang orang lain katakan. Lagian, apa yang mereka bilang kan bisa di-filter sesuai keinginan sendiri, tidak perlu ditelan mentah-mentah.

Oke, saat melangkah maju, juga pasti ada yang harus ditinggal. Entah itu rumah yang nyaman, orang tua, internet yang cepat, masakan ibu yang enak, atau motor/sepeda kesayangan. Tapi mungkin yang paling berat adalah berpisah dengan seseorang yang dekat denganmu. Itu yang aku rasakan. Meski sudah downgrade status, tetap saja terasa berat. Untungnya, selalu ada jejaring sosial dan video call yang membantu. Mau atau tidak, untuk melangkah maju, maka pastilah ada yang harus kita tinggal. Hal ini mengingatkanku pada pada cerita dua petualang yang berbeda pandangan dalam buku “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya”. By the way, buku itu sangat bagus, harus dibaca. Bukan promosi loh.

Yah, intinya, aku sudah siap melangkah. Meski masih ada keraguan sedikit, justru ketidakpastian itu yang membuat hidup ini menarik. Sudah, segitu saja cukup dulu.

About darksiderzukasa

I am a drifter. I do not belong to anyone. I am a free spirit. My words are not tied to any rules.

Posted on Agustus 4, 2011, in Curhat, Indonesia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: