Muka Pendidikan Indonesia Tercoreng Lagi


sumber: Kompas.com


Akhirnya setelah sekian lama tidak menulis post tentang edukasi lagi, kali ini ada berita yang menarik perhatianku di Kompas.com yaitu kasus SMA 6 Jakarta. Seperti inikah muka pendidikan Indonesia? Bukan bermaksud menggeneralisir, tapi itulah kenyataannya. Siswa-siswa remaja yang dibesarkan di kota metropolitan yang kekurangan lahan tidak mempunyai outlet untuk menyalurkan tenaganya. Akhirnya tawuran deh. Yang lebih aneh lagi adalah mengapa tawuran itu sampai menjadi tradisi? Mungkin memang sentimen antar siswa. Tapi, bagaimana dengan lokasi sekolah itu sendiri?

Salah satu alasan sering terjadinya tawuran, kata Mahfudz, karena lingkungan SMA 6 yang dikepung mal dan segala aktivitas yang mengganggu proses belajar mengajar. Faktor lain adalah solidaritas antarpelajar.

Nah, sekolah dekat mal jelas masalah besar. Siswanya jadi tidak konsen belajar gara-gara hiruk pikuk mal. Salah siapa sampai bisa seperti ini? Kalau urusan ini, mungkin bisa diserahkan ke Dinas Tata Kota. Tapi, meminjam kata-kata dosen saya, apa-apa di Indonesia perlu “amunisi”, dan jika sudah ada, pasti kekurangan terus. Kata “amunisi” bisa berarti apa saja.

Lanjut ke poin nomor 2. Solidaritas antar pelajar? Bagiku sama saja dengan ikut-ikutan. Untuk yang macam begini, pasti ada dalangnya. Saya tidak tahu mesti dibilang apa, tapi kalau dalam bahasa Bali, disebutnya penekek. Lebih lanjut, setelah quote di bawah.

(Tawuran) itu bagian dari tradisi yang terus ditradisikan. Dulu semester pertama saya sudah dikondisikan tawuran dengan SMA 70,” kata Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Mahfudz Siddiq di Kompleks DPR, Jakarta, Senin (19/9/2011).

Jadi begini, para penekek angkatan sebelumnya pasti memiliki sentimen dengan siswa SMA 70. Karena cekcok terus dan mereka mau lulus, akhirnya mereka meneruskan “tradisi” itu kepada adik kelasnya. Eh, mungkin kata yang lebih tepat “memaksakan”. Ya, mereka memaksakan tradisi itu.

Seperti biasa, jika sebuah tradisi hanya diikuti saja tanpa pemahaman yang jelas, hanya akan menjadi sebuah kebiasaan buruk. Untuk masalah ini, harus dicari akarnya dan dimusnahkan agar tradisi salah ini tidak semakin menjadi-jadi. Itulah tugas guru-guru dan semua aparat yang terlibat. Sayangnya, kasihan guru-guru di Indonesia. Gaji mereka lumayan rendah jika dibandingkan guru di luar negeri, jadi boro-boro mikirin siswa, mereka jauh lebih memikirkan keuangan mereka. Selain itu, kadang guru hanya berpikir buat mengajar saja, bukan menjadi psikolog dan teman siswa. Jadi, untuk pemerintah, naikkan gaji guru dan pikirkan kesejahteraan mereka. Kalau bisa, potong gaji DPR dan alokasikan ke guru. Tapi, kira-kira pemerintah berani gak ya…

Nah, sekarang ke inti beritanya, yaitu pengeroyokan terhadap wartawan. Saya mencoba netral dan menganalisisnya dari dua sudut pandang. Untuk kronologisnya sendiri ada dua versi. Yang pertama, versi siswa SMA 6 seperti yang ditulis di Kompas.com

…siswi kelas XII SMAN 6 Mahakam, Indraswari Pangestu, menuturkan latar belakang kemarahan siswa-siswi SMAN 6 terhadap wartawan yang melakukan aksi damai di sekolah tersebut pada Senin pagi tadi. Ia mengatakan, bentrok itu terjadi karena siswa tak senang melihat seorang yang memanjat gedung sekolah.
“Woi, ngapain lo di sana!” kata Indraswari yang ditulisnya dalam blognya. Mendengar hal itu, kata Indraswari, para guru dan polisi pun meminta agar wartawan tersebut turun dari atas bangunan.
Namun, wartawan itu justru balik mengancam. “Jangan bicara soal etika kepada saya! Awas kamu, saya bisa menuntut!” ujar Indraswari mengutip perkataan wartawan tersebut kepadanya.
Tak hanya itu, Indraswari mengatakan bahwa siswa marah tatkala wartawan mengerumuni siswa yang hendak mengambil sepeda motor dan meninggalkan sekolah. Salah satu siswa terpaksa menjatuhkan kendaraannya dan masuk kembali ke dalam sekolah.
“Setelah itu muncul beberapa kericuhan kecil lagi. Kamera tertuju pada gerbang kami dan meliput kami semua. Banyak dari para wartawan yang memprovokasi para guru,” sebut Indraswari.
Kericuhan pun akhirnya berlangsung di hadapan para aparat kepolisian yang berjaga-jaga di tempat tersebut. Tembakan peringatan dari polisi tak dihiraukan. Korban luka berjatuhan dari kedua belah pihak…

Yang kedua adalah versi polisi, yang bisa dilihat di link berikut: Kronologi Kericuhan SMA 6 Jakarta Versi Polisi
karena terlalu panjang untuk ditulis di sini.

Nah, kalau dari sudut pandang siswa, mungkin memang wartawannya yang salah karena mengeluarkan ancaman yang tidak menunjukkan kedewasaan. Jadinya malah dia yang terlihat seperti orang mencurigakan. Dan terutama saat wartawan meliput tawuran. Pastinya siswanya merasa tidak enak karena mereka diliput. Memang begitu psikologi manusia, saat melakukan hal jelek, pasti tidak ingin diketahui apalagi dipublikasikan.

Dari sudut pandang wartawan, tugas seorang jurnalis adalah mencari berita. Mereka berhak meliput kejadian di depan mereka. Jangankan tawuran, jurnalis bahkan meliput perang. Nah, para siswa ini mungkin belum mengerti tugas wartawan untuk meliput berita dalam kondisi apapun sehingga saat diliput, siswa merasa privasi mereka diusik.

Dalam kasus ini, masing-masing pihak memiliki kesalahan, tapi tidak ada yang mau mengakuinya sehingga terjadi seperti ini.

Nah sekarang bagaimana solusinya? Untuk tawuran yang sudah mendarah daging, bagaimana dengan relokasi sekolah? Hm, sepertinya tidak bisa. Mereka tetap bisa bertemu di mana saja untuk tawuran lagi. Ide yang lebih gila lagi adalah menyatukan kedua sekolah menjadi satu. Meski agak gila, tapi mungkin ada bagusnya juga. Dengan disatukannya mereka, jadi mungkin bisa membangun kebersamaan mereka karena mereka sudah menjadi sesama teman satu sekolah. Tapi, ide ini mungkin akan lebih menghancurkan sekolahnya, bukannya membangun. Ide yang lain adalah mengadakan semacam acara kebersamaan seperti acara olahraga. Tapi aku percaya ini ide yang lebih buruk, karena kekalahan dalam olahraga akan menyulut kemarahan yang jauh lebih besar. Sportivitas orang Indonesia memang kurang, sampai main bola antar RT saja bisa rusuh.

Mungkin solusi terbaiknya adalah dengan mencari akar-akar masalah dan menghabisinya. Yang jelas, pendidikan pembentukan karakter atau budi pekerti tidak akan membantu banyak karena hanya merupakan sekumpulan teori idealis yang tidak nyata. Sekarang, tinggal mencari siapa yang mau mencari akar-akarnya dan menghabisinya. Jangan suruh siswa, mereka mungkin tidak tahu siapa yang memulai tradisinya. Saat beginilah peran guru diperlukan untuk memutus lingkaran setan yang sudah tidak benar ini.

About darksiderzukasa

I am a drifter. I do not belong to anyone. I am a free spirit. My words are not tied to any rules.

Posted on September 20, 2011, in Indonesia, Sosial and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: