Semester Pertama: Terlalu Banyak Perubahan


Catatan Akhir Tahun

Tidak terasa sudah satu semester aku lalui. Iya, satu semester di President University itu 4 bulan. Makanya aku bisa lulus cepat nanti. Terlepas dari itu, terlalu banyak perubahan terjadi dalam waktu 4 bulan itu, perubahan yang perlahan-lahan mulai membentukku.

Perubahan besar pertama adalah tinggal di asrama. Untuk orang yang tidak pernah tinggal jauh dari rumah sepertiku, aku pikir tinggal di asrama bakal susah. Ternyata, tidak juga. Tinggal di asrama tidak beda dengan di rumah. Bedanya, kamu mengurus semua keperluanmu sendiri. Tidak ada orang tua yang bakal ngurusin kamu. Kamu benar-benar mandiri (dan bebas). Sayangnya, masalah yang kamu hadapi harus kamu pecahkan sendiri juga. Kemampuanmu membuat keputusan juga benar-benar diuji. Tidak bisa sedikit-sedikit minta tolong orang tua untuk bikin keputusan apalagi buat menyelesaikan masalahmu, kecuali keputusan itu melibatkan uang dalam jumlah banyak (untuk situasi seperti itu, selalu lebih baik berkonsultasi dulu). Memang bisa menelpon mereka, tapi sayang waktu dan pulsa kan?


Kehidupan sosial juga merupakan perubahan. Beradaptasi dengan lingkungan baru memang butuh waktu, dan aku masih dalam tahap penyesuaian diri, apalagi latar belakangku datang dari kota biasa ke kota metropolitan. Aku masih belum terbiasa dengan kehidupan metropolitan, jadi aku lebih banyak berdiam diri di asrama dan mencoba menyesuaikan diri dengan yang dekat-dekat saja dulu. Sebenarnya akar masalahnya gampang: transportasi. Aku masih belum tahu bus ini bakal membawaku ke mana. Di saat-saat seperti ini, sangat bagus untuk punya teman yang tahu jalan.

Bicara soal kehidupan sosial, tinggal di asrama benar-benar membuatku menjadi lebih open-minded karena aku bertemu dengan berbagai macam orang di sini. Ada yang benar-benar mengerti jokes-ku, ada yang artis wannabe, bahkan ada dandere yang jarang bicara. Intinya, di sini, aku bertemu dengan orang-orang dari berbagai daerah dan latar belakang dengan kebiasaan berbeda. Hidup dengan mereka sebenarnya tidak buruk-buruk amat, asal kita tidak mempunyai stereotype. Awalnya, saat datang ke sini, aku dan temanku merasa agak insecure karena dia mempunyai beberapa kecurigaan pada orang. Tapi, kalau berlebihan mencurigai orang, itu namanya paranoid.

Hidup dengan orang, apalagi yang memiliki kebiasaan yang kontras, mungkin sangat susah. Tapi, daya adaptasi manusia sungguh luar biasa. Ada saja akal yang bisa aku temukan untuk mengatasi sebuah masalah. Jika tidak ada pemecahannya, (meminjam kata-kata Ajahn Brahm) maka masalah pun tidak ada. Kita hanya perlu menghemat tenaga untuk menghadapi masalah berikutnya.

Cekcok pun tidak terelakkan. Aku seorang yang pacifist (tidak suka masalah), jadi aku sebisa mungkin menghindari masalah. Tapi, tau kan, setiap orang punya sumbunya sendiri-sendiri. Ada yang punya sumbu pendek, ada yang sumbunya panjang. Aku termasuk yang panjang, karena aku tidak terlalu menganggap serius apa yang dikatakan orang-orang. Tapi, kalau sering dipicu kan lama-lama bisa terbakar juga. Itulah yang terjadi padaku. Tapi, dibandingkan menyelesaikan masalahnya dengan kekerasan (yang biasa dilakukan ababil jika ngamuk) dan melampiaskan kemarahan pada benda-benda mati tidak berdosa macam pintu dan laptop, aku lebih memilih mundur sendiri dan melampiaskan kemarahan lewat tulisan. Ingat kan pepatah “A pen is mightier than the sword”? Itu benar dalam beberapa arti, apalagi jika tulisanmu kamu publikasikan di jejaring sosial.

Perubahan selanjutnya adalah kuliah itu sendiri. Kuliah itu benar-benar berbeda dengan SMA, dan aku masih perlu mengingatkan diriku kadang-kadang. Di kuliah, jadwalnya kamu yang menentukan, mau masuk apa bolos juga kamu yang menentukan, mau berhasil apa nggak itu semua kamu yang menentukan. Aku masih menjalani kebiasaan SMA, yaitu belajar seperti biasa. Aku juga belajar caranya mendekati dosen. Aku juga belajar cara menulis paper yang benar dan cara berdebat. Intinya, aku banyak sekali belajar hal baru. Aku juga merasa, kuliah itu tidak jauh beda dengan SMA.
Satu beban tiba-tiba jatuh ke pundakku, yaitu aku tiba-tiba dilantik sebagai Ketua Divisi Debat. Hore, aku dapat jabatan penting. Sial, karena aku sama sekali tidak tahu apa-apa soal organisasi. Untuk lebih lanjut, bisa lihat Rage Comic yang aku bikin di bawah ini.

Hal-hal yang menyenangkan banyak terjadi, seperti gathering jurusan dan simulasi United Nations. Hal-hal yang tidak menyenangkan selalu menyertai pula, seperti dosen yang tidak jelas dan periode-periode galau dan sakit hati yang sempat aku alami.

Itulah catatan akhir tahunku untuk urusan kuliah, apa catatanmu?

About darksiderzukasa

I am a drifter. I do not belong to anyone. I am a free spirit. My words are not tied to any rules.

Posted on Desember 20, 2011, in Curhat, Indonesia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: