Natal, Musim Ketamakan



Halo pembaca PersonaLity! Beberapa hari lagi, kita akan merayakan hari lahirnya Jesus Christ yaitu Christmas atau Natal. Tentunya pembaca sudah bersiap menyambut kedatangan Santa Claus yang akan membawa kado buat anak-anak baik. Aku sendiri sih berharap Santa Miku atau Tomoka yang datang ke rumahku di tengah malam, hehe.

Kalau kita melihat ke kota-kota besar metropolitan, terlihat geliat kaum kapitalis memanfaatkan momentum Natal ini. Yup, anda mengerti maksudku kan? Diskon, diskon, dan diskon. Department store besar mengadakan diskon besar-besaran untuk menarik masyarakat membeli produk mereka. Itulah taktik yang dilancarkan para kapitalis untuk mengeruk keuntungan besar di akhir tahun. Lalu, apa hubungannya dengan judul post ini?

Mudah saja. Efek psikologis kata “diskon” sangat besar pada masyarakat kita yang terkenal konsumtif. Bayangkan, saat RIM mendiskon Blackberry hingga 50% untuk 1000 pembeli pertama, berapa orang yang mengantre? Itulah kilasan singkat budaya konsumtif masyarakat kita. Hanya demi gengsi dan kepuasan sesaat, mereka harus jadi beringas saat memperebutkan sebuah handphone yang sebentar lagi akan kehilangan pangsa pasar.

Lalu, lanjut ke masalah pokok. Menjelang Natal, banyak department store besar mengadakan diskon gila-gilaan, bahkan hingga tengah malam. Di sini, kita bisa melihat ibu-ibu saling berdesakan memilih baju yang murah, remaja-remaja memilih-milih jaket yang bagus dan murah, dan anak-anak memelototi tingkah laku orang dewasa yang baru akan dimengerti setelah mereka dewasa. Asal sudah merasa cocok, mereka pun langsung akan membelinya. Kadang ada yang menenteng banyak sekali tas belanjaan yang berisi baju, peralatan, mainan, dll. Hanya ada satu alat pembayaran yang cocok di sini: kartu kredit/debit! Betapa konsumtifnya masyarakat kita!

Apa yang menyebabkan masyarakat kita jadi begitu hedonis dan konsumtif? Perubahan budaya jawabannya. Pengaruh globalisasi dan masuknya budaya kapitalis menyebabkan masyarakat kita menjadi konsumtif, selalu membeli barang baru padahal sebenarnya mereka tidak memerlukannya. Uang itu sangat mudah dikeluarkan untuk kepentingan pribadi, tapi ketika disuruh menyumbang, uang itu bisa-bisa hilang entah ke mana.

Kenapa aku terinsipirasi membuat tulisan ini? Mudah saja, beberapa hari yang lalu aku menonton sitcom kesukaanku, Family Guy, episode Road to the North Pole. Yah, mumpung sedang suasana Natal. Yang menarik dari ceritanya (padahal ini hanya sitcom bodoh macam The Simpsons) adalah bagaimana ketamakan manusia membuat Santa Claus sekarat. Awalnya, Santa tidak kesulitan memenuhi permintaan orang-orang, tapi, setelah populasi dunia bertambah dan orang-orang menginginkan barang-barang macam iPod dan Xbox360, Santa sampai kewalahan hingga jatuh sakit. Solusi yang ditawarkan adalah: setiap orang hanya boleh meminta 1 kado saja setiap Natal. Meski ini hanya sebuah sitcom, tapi makna yang disampaikan sangat mendalam: bahwa kita menjadi semakin konsumtif dari tahun ke tahun.

Jadi, bagaimana pendapat kalian? Apakah Natal telah berubah menjadi musim kebahagiaan dalam ketamakan? Sampaikan pendapat kalian lewat komentar di bawah!

About darksiderzukasa

I am a drifter. I do not belong to anyone. I am a free spirit. My words are not tied to any rules.

Posted on Desember 23, 2011, in Indonesia, Sosial and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: