Indonesia, You’re Doing It Right! Hukum yang Maha Tidak Adil



Aku tiba-tiba mendapat inspirasi untuk menulis post ini saat mengikuti kuliah Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Kebetulan saat itu adalah kelas pertama, jadi kita ngobrol-ngobrol dulu sama dosennya. Nah, saat kita lagi bicara soal hukum internasional, dosen aku menanyakan, “Mana yang lebih stabil? Hukum domestik atau hukum internasional?” Nah, kita dibikin berpikir keras oleh dosen ini. Masalahnya, dia itu debater andal, yang selalu kritis.

Mau tau jawabannya? Menurut dosen, hukum domestiklah yang lebih stabil, karena ada penegak hukum, sementara di dunia hukum internasional, tidak ada yang namanya penegak hukum. Tiba-tiba, teman cewek aku menanggapi, “Loh pak, bukannya ada PBB dan Dewan Keamanan?” Lalu, dosen ini mengatakan sesuatu yang benar-benar mengubah cara pandangku terhadap organisasi terbesar dunia ini. “Dewan Keamanan PBB BUKAN penegak hukum, juga bukan pembuat hukum. PBB itu sendiri BUKANLAH lembaga supra-nasional, jadi PBB tidak bisa memaksakan peraturan mereka kepada negara-negara lain,”

Wow! Itulah sebuah cara pandang yang belum pernah aku pikir sebelumnya! Lantas, aku mendapat inspirasi setelah dosen ini bercerita soal kejadian-kejadian dunia yang bisa dianggap brutal seperti pembantaian di lapangan Tiananmen, Cina dan penyerangan Amerika ke Irak. Kejadian-kejadian itu sangat sadis dan bahkan bisa dibilang kejahatan terhadap kemanusiaan, tapi PBB tidak bisa berbuat apa.

Lalu mengapa judul post ini menyinggung hukum Indonesia? Percaya atau tidak, ternyata hukum Indonesia sudah sesuai dengan standar hukum internasional. Loh, kok bisa?! Bisa dong. Hukum internasional itu hanya kuat terhadap negara kecil. Kalau disuruh menghadapi negara kuat, hukum internasional itu tidak berkutik. Bukankah itu sama seperti di Indonesia? Hukum hanya milik orang kuat dan berkuasa, bukan milik rakyat kecil.

Belakangan, sering mencuat kasus-kasus dimana rakyat kecil yang mendapat hukuman berat hanya karena mereka melakukan kejahatan kecil. Sebagai contoh, kasus nenek mencuri kakao, kasus AAL dan sandal jepit, dan kasus terbaru, yaitu kasus DW yang mencuri uang Rp 1000. Kalau anda membaca beritanya, maka bertanyalah pada diri anda: pantaskah mereka mendapat hukuman seberat itu? Sebandingkah hukumannya dengan perbuatan yang mereka lakukan?

Untuk kasus AAL dan DW, mereka hanyalah anak-anak di bawah umur. Di umur yang begitu muda, mereka harus melalui proses hukum yang traumatik dan menghadapi publikasi media. Seharusnya mereka menikmati masa-masa mereka di sekolah bersama teman-teman mereka, bukannya malah disidang.

Pengumpulan 1000 sandal sebagai dukungan untuk AAL


Pada kasus AAL, menurut perkembangan terbaru, AAL dinyatakan bersalah dan dikembalikan kepada orang tuanya. Katanya, sudah sesuai dengan hukum formal. Tapi, coba kita lihat sebentar. AAL hanya mencuri sandal jepit. Tapi, menurut penuturannya, ia juga dianiaya oleh oknum polisi, karena itulah kasusnya dibawa ke meja hijau. Seharusnya, polisi bisa bertindak lebih manusiawi, apalagi sama anak kecil. Sepertinya polisi hanya berani pada orang lemah daripada pejabat! Lagian, yang dicuri hanyalah sandal jepit yang bisa dengan mudah ditemukan di pedagang manapun. Polisi, jika memang dewasa, seharusnya memberi tahu kalau perbuatan AAL itu salah, bukannya malah memukuli.

Sidang DW di Pengadilan Negeri Denpasar


Pada kasus DW, ia mencuri uang itu karena diancam oleh seseorang. Jadi, bukan dia yang seharusnya duduk di kursi pengadilan, pengancamnyalah yang harus! DW, yang masih remaja, dihadapkan pada tuntutan 7 bulan penjara. Iya, itu bukan salah tulis. TUJUH bulan penjara. Hanya gara-gara mencuri uang yang cukup untuk bayar parkir sepeda motor.
Apakah hukum sekaku itu? Anak kecil diperlakukan seperti kriminal, dijatuhi hukuman berat hanya karena mencuri benda yang nilainya sangat kecil. Lantas, bagaimana dengan pelaku korupsi kita? Oh, mereka kan hampir kebal hukum! Sama seperti negara-negara kuat di dunia, terutama the Big Five yang memegang hak veto di Dewan Keamanan PBB. Makanya aku bilang, hukum Indonesia itu sama saja seperti hukum internasional, kuat pada yang lemah, lemah pada yang kuat.

Di Indonesia, pelaku korupsi diperlakukan seperti VIP. Seperti Nunun Nurbaeti yang mendapat kamar rumah sakit yang berharga jutaan rupiah per hari dan Nazaruddin yang dijemput dengan jet mewah. Sekedar pendapat saja, Nunun tiba-tiba sering jatuh sakit itu gara-gara dia sudah ketahuan dan ditangkap. Coba kalau nggak ditangkap, pasti masih bugar di luar negeri. Hukum Indonesia, bila dihadapkan pada pejabat dan orang kuat, tidak bisa melakukan apa-apa, sampai muncul istilah “hukum hanya untuk yang berkuasa dan berduit”.

Selama negara kita dikuasai oleh uang dan kekuasaan, hukum akan selalu menjadi sosok yang menakutkan bagi rakyat kecil, sedangkan bagi orang berkuasa, hukum bukanlah apa-apa. Hukum internasional juga sama. Saat negara kecil melakukan sesuatu yang salah, PBB bisa langsung turun dan bertindak. Namun, bila negara besar seperti Amerika melakukan sesuatu, tidak ada negara yang berani menindak. Seolah PBB dan hukum internasional itu hanya milik negara-negara kuat saja. Akankah kejadian Liga Bangsa-Bangsa, pendahulu PBB, terulang lagi? Semoga saja tidak, tapi aku mulai berpikir kalau PBB itu tidak diperlukan lagi kalau hanya 5 negara yang boleh memegang hak veto.

Hukum adalah buatan manusia. Tidak akan pernah ada karya buatan manusia yang sempurna. Begitu pula dengan hukum. Hukum buatan manusia TIDAK akan pernah sempurna. Inilah yang harus kita hadapi sekarang. Hukum yang maha tidak adil. Kuat pada orang lemah, lemah pada orang kuat. Jangankan hukum Indonesia, ternyata hukum internasional juga sama, memihak pada yang kuat.

About darksiderzukasa

I am a drifter. I do not belong to anyone. I am a free spirit. My words are not tied to any rules.

Posted on Januari 10, 2012, in Indonesia, Sosial and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Indonesia sebenarnya memang negara yang berdasarkan hukum, namun hanya orang” besar saja yang mengetahuinya…
    oleh karena itu mudahlah untuk mengelabui orang yg buta hukum…
    slain itu, org Indonesia sgt kreatif dlm mengutak-atik sesuatu…
    coba saja tanyakan siapa yg tidak kenal pembajakan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: