Monthly Archives: Maret 2012

Review: Guilty Crown [Fall 2011]


Akhirnya, setelah 22 episode selama beberapa bulan, Gulity Crown tamat dengan cukup memuaskan. Anime buatan Sunrise ini mendapat banyak cercaan dan pujian di berbagai forum anime. Banyak yang bilang ceritanya meniru-niru Code Geass, Ouma Shu adalah protagonist terburuk yang pernah ada, dan macam-macam. Satu hal sebelum aku menulis review ini: aku tidak akan membanding-bandingkan aspek Guilty Crown dengan anime lain seperti Code Geass. Setiap anime memiliki keunikan dan kelemahannya sendiri.

Synopsis Singkat

Warning: Spoiler Alert

Jepang dilanda Apocalypse Virus, yang muncul sebagai akibat kejadian Lost Christmas pada tanggal 24 Desember 2029. Sebuah badan internasional bernama GHQ mengambil alih pemerintahan Jepang dengan maksud memulihkan Jepang dan melenyapkan Apocalyspe Virus.

Shu menarik Void Inori


10 tahun kemudian, kita bertemu dengan Ouma Shu, seorang siswa SMA yang sedikit tertutup. Serangkaian kejadian mempertemukannya dengan Yuzuriha Inori, vokalis Egoist. Inori membawa tabung berisi Void Genome yang harus diserahkan kepada Tsutsugami Gai, ketua Funeral Parlor, sebuah kelompok pemberontak. Di perjalanan, Inori dan Shu diserang Endlave, mecha milik GHQ. Akhirnya, Shu memakai Void Genome dan mendapat the King’s Mark di tangan kanannya. Kini, Shu bisa menarik keluar Void, yaitu perwujudan fisik dari hati manusia. Shu menarik keluar Void milik Inori, sebuah pedang raksasa, dan menghancurkan Endlave yang menyerang mereka.
Baca terus…

Iklan

Publikasi di Jurnal Ilmiah Sebagai Syarat Lulus Terancam Gagal!

Tidak ada habis-habisnya membicarakan pendidikan di Indonesia. Dari SMA, aku suka menulis soal problem pendidikan di sekolahan. Sekarang, kemampuan berpikir kritisku mulai meningkat sejak duduk di bangku kuliah, dan aku suka membicarakan filosofi. Tapi sekarang, sebuah kebijakan pemerintah yang baru bisa menjadi mimpi buruk semua calon sarjana di Indonesia. Ya, mungkin yang rajin baca koran sudah tahu apa maksudku.

Muhammad Nuh, Mendiknas


Kewajiban lulusan S-1, S-2, dan S-3 untuk mempublikasikan karya ilmiah di jurnal ilmiah. Hanya karena Malaysia menerbitkan jurnal ilmiah lebih banyak dari kita, Mendiknas langsung iri dan memaksa calon sarjana kita untuk lebih giat menulis sampai-sampai membuat sebuah peraturan.

Kebijakan ini menyulut kontroversi yang benar-benar panjang. Apa gerangan yang ada di pikiran pemerintah? Aku akan mencoba membahas kebijakan baru ini dan menyampaikan argument yang berkaitan, karena sejujurnya, kebijakan baru ini benar-benar harus mendapat tertawaan.
Baca terus…