Peta Hubungan: Analisis Iseng soal Hubungan antar Manusia


Hai, sudah lama aku tidak blogging ya? Iya, itu karena terlalu banyak kerjaan dan minimnya waktu luang. Aku bosan menulis soal anime melulu, sekarang bagaimana dengan sesuatu yang ringan? Ini hasil observasiku selama menjalani hidup sebagai mahasiswa.

Yap, peta hubungan. Semuanya berasal dari hasil pengamatanku, jadi ini belum tentu terbukti secara ilmiah. Oke langsung saja, ini gambarnya.

Kita mulai dari bawah ya, dari “Tidak saling mengenal”. Inilah fase yang selalu mengawali segala jenis hubungan. Di fase ini, kita bakal mencoba “nyambung” dengan lawan bicara kita. Semuanya ditentukan di fase ini, apakah kita cocok dengan orang ini atau tidak. Karena tingkat kesulitannya juga rendah, maka beban pilihan kita juga tidak berat-berat amat. Kita bisa memilih melanjutkan ke level berikutnya atau pergi, mudah saja. Toh juga kita ngga bakal liat mukanya lagi.

Lalu, seandainya kita memilih untuk berkenalan lebih lanjut, jadilah orang sebagai “kenalan” kita. Nah, banyak orang yang berada di level ini. Mbak-mbak di warteg langganan, si OP warnet yang sering kita kunjungin, dan orang-orang kampus yang kamu ajak ngobrol sekali-sekali. Inilah tahap seleksi dari dalam diri sendiri: siapakah di antara kenalan ini yang pantas aku percaya dan jadikan teman?

Prosesnya pun berbeda-beda untuk setiap orang. Ada yang dengan mudahnya menerima “kenalan” jadi teman, ada yang sangat sulit. Cara yang sering dipakai adalah dengan cara sering-sering hangout bersama “kenalan” ini. Kalau kamu merasa kamu mendapat pengaruh positif, maka kemungkinan besar kamu akan menerima mereka jadi “teman”. Kalau tidak, mungkin kamu akan tetap membiarkan mereka di level “kenalan”. Toh juga ngga ada ruginya punya kenalan banyak-banyak.
Nah, level berikutnya: TEMAN. Inilah level paling krusial dan pilihan yang kamu bikin di level ini bisa mempengaruhi ending yang kalian dapat di akhir nanti. Wah seperti Visual Novel saja ya? Ya, hidup itu sebenarnya Visual Novel paling rumit yang pernah diciptakan. Di sini, kalian bisa melihat jalannya bercabang dua.

Nah, penjelasan berikutnya akan memakai sudut pandang cowok. Untuk cewek, tinggal ganti konteks aja.

Cowok tentunya dengan gampang memilih siapa yang mau dibawa ke level selanjutnya. Teman-temannya (baik cowok maupun cewek), asal sudah kompatibel dan sering hangout bareng atau memiliki hobi sama, maka besar kemungkinan mereka sudah memiliki tiket di level “Teman Dekat”. Nah, kasusnya berbeda dengan cewek yang kamu taksir: kamu bisa memilih membawanya ke level “Teman Dekat” (atau dikenal sebagai friendzone belakangan ini) atau membawanya ke rute yang lebih intim, yaitu rute “Pacaran”.

Nah, perhatikan daerah “teman” yang diberi angka 2. Mengapa aku beri garis loop? Mudah saja. Pertemanan itu abadi, hanya bisa dihancurkan oleh pertengkaran dahsyat saja. Sebagai contoh, saat kamu bertengkar dengan teman dekatmu, berapa lama waktu yang diperlukan sampai kamu saling memaafkan? Kalau kalian memang benar-benar teman, mungkin hanya beberapa jam. Jadi, sekali teman, tetap teman selamanya. Tapi, ada kalanya sesuatu yang besar terjadi, melemparkan diri kalian ke level “Tidak saling kenal”.

Sekarang perhatikan angka 1. Itu ada dua garis merah yang mengarah dari “Pacaran” ke level yang lebih rendah. Itu menunjukkan 2 kemungkinan yang bisa terjadi saat kalian berada di level “Pacaran”. Iya, kejadian itu adalah saat kalian putus.

Kemungkinan nomor 1 adalah netral. Kalian putus baik-baik dan memutuskan tetap menjadi teman tanpa keinginan terselubung.

Kemungkinan nomor 2 adalah buruk. Kalian putus dengan amarah dan memutuskan untuk saling tidak peduli.

Kemungkinan nomor 3? Yap, melanjutkan ke level berikutnya dalam rute itu, yaitu “Menikah”, yang mungkin merupakan akhir terbaik bagi beberapa orang, atau awal mimpi buruk bagi sekian orang. Mengapa ada tanda X di sebelah kotak “Menikah”? Itu karena aku membayangkan bahwa sudah sangat sulit untuk regresi pada tingkatan ini. Mengurus surat cerai itu perlu melalui birokrasi yang sangat lama dan memusingkan, dan kasus kekerasan malah akan menurunkan tingkatan menjadi “Musuh”.

Jadi itulah analisisku sebagai mahasiswa kurang kerjaan. Kalau anda mencari sebuah kesimpulan, anda tidak akan menemukannya karena kesimpulan ada di tangan anda. Apabila ada komentar atau saran, jangan ragu-ragu untuk berkomentar!

About darksiderzukasa

I am a drifter. I do not belong to anyone. I am a free spirit. My words are not tied to any rules.

Posted on Mei 22, 2012, in Indonesia, Iseng-Iseng, Sosial and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. dari menikah juga ada yang balik menjadi hanya teman atau tidak saling mengenal…
    antara tidak saling mengenalk dengan musuh juga berbeda…

  2. sangat setuju sama kata” hidup ini seperti visual novel.. aku juga mikir kayak gitu soalnya..
    nice info

  3. bener-bener mahasiswa kurang kerjaan !!! so far … bagus kasih sudut pandang pengamatan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: