Memahami Pop Sub-Culture: Kerumitan yang Disengaja


Berawal dari sebuah diskusi kecil di Twitter yang benar-benar singkat, aku jadi ingin menulis post ini. Semuanya berawal dari tweet ini:

Dan kemudian aku menerima beberapa penjelasan dari dua orang berbeda, di mana salah satunya adalah penggemar K-Pop asli dan yang satunya setengah Japan setengah Korea. Gara-gara ini, aku jadi kepikiran, mengapa antar 2 sub-culture ini mesti memiliki banyak kata-kata berbeda yang seharusnya bisa berarti sama? Kenapa tidak membuat satu kata yang seragam untuk digunakan?

Jadinya aku brainstorming selama 15 menit, dan beginilah teoriku. Semua ini murni hasil berpikir selama 15 menit menjelang tengah malam 2 hari lalu, jadi maafkan saja kalau tidak ada data-data dan fakta-fakta akurat untuk mendukung hipotesis ini.

The Beginning

Awalnya aku iseng-iseng browsing profile seseorang di Facebook, ketika secara tidak sengaja aku melihat info-nya yang penuh dengan kata “fangirling”. Activities-nya “fangirling”, bahkan sampai Work-nya juga “fangirling”. Aku sudah terlalu sering mendengar istilah ini dari kaum K-Popers di kampus dan di internet, tapi baru sekarang aku mulai mencari-cari artinya. Dan inilah conversation yang memberikan sebuah penjelasan awal padaku:

Sengaja disensor untuk menjaga privasi orang

Dan begitu mendengar penjelasan ini, sebuah kata lain langsung terlintas di pikiranku: otaku.

Searching for Answers

Begitu kata “otaku” itu terlintas di benakku, langsung saja aku mulai brainstorming mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menggangguku. Dan berkat ceramah pagi-pagi yang disampaikan sahabatku beberapa waktu lalu, aku sepertinya mendapatkan jawabannya. Daripada berpuas dengan jawaban “Ya kalo ngga gitu, bukan sub-culture namanya!”, aku lebih memilih memakai jawaban sahabatku ini, ditambah dengan pikiranku.

The Answer

Sekali lagi, ini hanya teoriku semata tanpa diperkuat oleh data-data ilmiah.

Inilah bayanganku soal “fangirls” di konser Big Bang.

Antara “otaku” dan “fangirl/boy”, keduanya serupa tapi tak sama. “Otaku” sudah terlanjur mendapatkan cap negatif karena identik dengan orang-orang yang menghabiskan waktunya di depan komputer dan menonton anime dan tidak pernah bersosialisasi. Sementara “fangirl/boy” derajatnya dianggap lebih tinggi karena ada yang namanya “Fans Club”. Tapi, “fangirling/boying”, yang merupakan sebuah kata kerja, begitu mendengarnya, hal yang terlintas di benakku adalah cewek-cewek remaja yang berteriak-teriak histeris di depan panggung konser Justin Bieber sambil mengusung banner besar berisi “I Love Justin Bieber”. Tambahan iseng: kenapa ngga ada “otaku-ing”?

Terlihat sangat berbeda dan kontras bukan? TIDAK. Sebenarnya esensinya sama, yaitu seseorang yang sangat mencintai (kalo ngga mau dibilang terobsesi) dengan sesuatu atau seseorang. Lalu, kalau memang esensinya sama, kenapa harus ada banyak istilah untuk mendeskripsikan 1 hal ini saja?

Untuk menjawabnya, aku akan meminjam teori sahabatku yang aku beri nama “The Isolated Playground Theory” atau “Teori Tempat Bermain Terpencil”. Beginilah teorinya:

Sesungguhnya, banyak sekali terdapat fans yang berminat pada objek tertentu. Ada K-Pop fans, anime fans, military fans, technology fans, dsb. Agar lebih terlihat sebagai “fans”, mereka menciptakan sebuah “playground” untuk diri mereka sendiri untuk memuaskan kecintaan mereka pada objek itu. Sebagai contoh, anime fans (selanjutnya disebut “otaku”) mengelompokkan cewek-cewek anime dalam banyak kategori, yang kini kita kenal sebagai “types of moe”. Sementara, para military fans mempunyai bahasa sendiri seputar militer seperti kode-kode rahasia. Intinya? Mereka merasa ingin MEMILIKI dunia itu dan tidak ingin ada gangguan dari orang luar, sehingga mereka menciptakan begitu banyak kerumitan-kerumitan dan jargon untuk mempersulit masuknya orang luar yang tidak mengerti dunia mereka. Mereka dengan sengaja mencipatkan peraturan-peraturan yang hanya dimengerti mereka sendiri agar orang awam tidak bisa mengganggu kesenangan mereka.

Otaku’s “playground”. Coba berkunjung ke rumah teman cewekmu yang demen K-Pop, pasti mirip, minus figma dan PVC-nya.

Jadi para anime fans melabeli diri mereka sebagai “otaku” dan itu memperjelas batasan antara satu sub-culture dengan sub-culture lainnya. “Fangirl/boy” itu khusus untuk K-Pop atau yang dekat-dekat musik, dan masih banyak lagi sebutan-sebutan lainnya. Jadi, istilah-istilah seolah memberikan mereka sebuah “identitas” yang memperkuat keberadaan mereka. Atas dasar inilah, konvergensi makna antar sub-culture tidak mungkin bisa terjadi, karena apabila benar-benar terjadi, maka orang-orang yang telah bersusah payah membangun “playground” mereka akan merasa “disamakan”.

Oh ya, teman diskusiku yang satunya lagi mengatakan kalau “otaku” dan “fangirl/boy” sudah SANGAT berbeda. Karena “otaku” adalah “Die-hard fan” sedangkan “fangirl/boy” hanya “fans”. Tapi, bukankah esensinya sama saja? Seseorang yang terobsesi pada sesuatu. Kegiatan mereka juga tidak jauh-jauh berbeda: Googling info terbaru soal objek obsesi mereka, mengoleksi pernak-pernik idola mereka, dan datang ke acara yang terkait dengan obsesi mereka. Kalau dilihat dari mata orang awam, apa bedanya?

Baiklah, itulah sekedar analisis yang sangat iseng dari seorang mahasiswa iseng yang liburan sisa hanya 8 hari ini. Aku menerima kritik dan saran, asal konstruktif. Ayo, apa ada yang mau menyumbang ide soal ini? Kontribusi anda akan dihargai! Meski bukan dengan uang…

About darksiderzukasa

I am a drifter. I do not belong to anyone. I am a free spirit. My words are not tied to any rules.

Posted on Agustus 14, 2012, in Budaya, Indonesia, Iseng-Iseng and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: