Category Archives: Sosial

Penasaran dengan masalah sosial yang terjadi di masyarakat kita? Simaklah pandangan seorang blogger mengenai masalah-masalah yang populer.

Bahasa Inggris dan Pendidikan Indonesia: Sebuah Kombinasi Brilian?

Sudah lama aku tidak blogging soal isu sosial semenjak aku masuk kuliah ya? Padahal jurusanku Hubungan Internasional…

Oke, aku habis membaca sebuah artikel di Globe Asia yang berjudul The Blind Leading the Blind. AKu pikir artikel itu benar-benar sesuai dengan judul post ini. Oke, tanpa basa-basi, aku akan langsung ke pokok.

Bahasa Inggris kini telah menjadi bahasa global dan bahasa perdagangan dan bisnis yang dipakai di sleuruh dunia. Coba saja lihat betapa banyaknya jurnal ilmiah yang dipakai oleh para cendekiawan kita saat menyusun tesis, pastinya kebanyakan dalam bahasa Inggris kan? Contoh yang lebih sederhana, saat kamu masuk ke restoran McD di mall, menunya memakai bahasa Inggris kan? Seperti Double Cheeseburger yang menjadi makanan favoritku. Itulah bukti bahwa kita tidak bisa lepas dari bahasa Inggris.

Karena bahasa Inggris sudah mengglobal, agaknya petinggi negara kita ingin mengangkat derajat bangsa dengan memasukkan bahasa Inggris dalam kurikulum sekolah. Wah, ide mereka bagus sekali! Ajarkan anak-anak bangsa bahasa global agar mereka bisa berkompetisi di dunia global! Demi kelangsungan Indonesia!

Sayangnya, mungkin mereka terlalu optimis dan terburu-buru…
Baca terus…

Iklan

Peta Hubungan: Analisis Iseng soal Hubungan antar Manusia

Hai, sudah lama aku tidak blogging ya? Iya, itu karena terlalu banyak kerjaan dan minimnya waktu luang. Aku bosan menulis soal anime melulu, sekarang bagaimana dengan sesuatu yang ringan? Ini hasil observasiku selama menjalani hidup sebagai mahasiswa.

Yap, peta hubungan. Semuanya berasal dari hasil pengamatanku, jadi ini belum tentu terbukti secara ilmiah. Oke langsung saja, ini gambarnya.

Kita mulai dari bawah ya, dari “Tidak saling mengenal”. Inilah fase yang selalu mengawali segala jenis hubungan. Di fase ini, kita bakal mencoba “nyambung” dengan lawan bicara kita. Semuanya ditentukan di fase ini, apakah kita cocok dengan orang ini atau tidak. Karena tingkat kesulitannya juga rendah, maka beban pilihan kita juga tidak berat-berat amat. Kita bisa memilih melanjutkan ke level berikutnya atau pergi, mudah saja. Toh juga kita ngga bakal liat mukanya lagi.
Baca terus…

Publikasi di Jurnal Ilmiah Sebagai Syarat Lulus Terancam Gagal!

Tidak ada habis-habisnya membicarakan pendidikan di Indonesia. Dari SMA, aku suka menulis soal problem pendidikan di sekolahan. Sekarang, kemampuan berpikir kritisku mulai meningkat sejak duduk di bangku kuliah, dan aku suka membicarakan filosofi. Tapi sekarang, sebuah kebijakan pemerintah yang baru bisa menjadi mimpi buruk semua calon sarjana di Indonesia. Ya, mungkin yang rajin baca koran sudah tahu apa maksudku.

Muhammad Nuh, Mendiknas


Kewajiban lulusan S-1, S-2, dan S-3 untuk mempublikasikan karya ilmiah di jurnal ilmiah. Hanya karena Malaysia menerbitkan jurnal ilmiah lebih banyak dari kita, Mendiknas langsung iri dan memaksa calon sarjana kita untuk lebih giat menulis sampai-sampai membuat sebuah peraturan.

Kebijakan ini menyulut kontroversi yang benar-benar panjang. Apa gerangan yang ada di pikiran pemerintah? Aku akan mencoba membahas kebijakan baru ini dan menyampaikan argument yang berkaitan, karena sejujurnya, kebijakan baru ini benar-benar harus mendapat tertawaan.
Baca terus…

Indonesia, You’re Doing It Right! Hukum yang Maha Tidak Adil


Aku tiba-tiba mendapat inspirasi untuk menulis post ini saat mengikuti kuliah Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Kebetulan saat itu adalah kelas pertama, jadi kita ngobrol-ngobrol dulu sama dosennya. Nah, saat kita lagi bicara soal hukum internasional, dosen aku menanyakan, “Mana yang lebih stabil? Hukum domestik atau hukum internasional?” Nah, kita dibikin berpikir keras oleh dosen ini. Masalahnya, dia itu debater andal, yang selalu kritis.

Mau tau jawabannya? Menurut dosen, hukum domestiklah yang lebih stabil, karena ada penegak hukum, sementara di dunia hukum internasional, tidak ada yang namanya penegak hukum. Tiba-tiba, teman cewek aku menanggapi, “Loh pak, bukannya ada PBB dan Dewan Keamanan?” Lalu, dosen ini mengatakan sesuatu yang benar-benar mengubah cara pandangku terhadap organisasi terbesar dunia ini. “Dewan Keamanan PBB BUKAN penegak hukum, juga bukan pembuat hukum. PBB itu sendiri BUKANLAH lembaga supra-nasional, jadi PBB tidak bisa memaksakan peraturan mereka kepada negara-negara lain,”
Baca terus…

Natal, Musim Ketamakan


Halo pembaca PersonaLity! Beberapa hari lagi, kita akan merayakan hari lahirnya Jesus Christ yaitu Christmas atau Natal. Tentunya pembaca sudah bersiap menyambut kedatangan Santa Claus yang akan membawa kado buat anak-anak baik. Aku sendiri sih berharap Santa Miku atau Tomoka yang datang ke rumahku di tengah malam, hehe.

Kalau kita melihat ke kota-kota besar metropolitan, terlihat geliat kaum kapitalis memanfaatkan momentum Natal ini. Yup, anda mengerti maksudku kan? Diskon, diskon, dan diskon. Department store besar mengadakan diskon besar-besaran untuk menarik masyarakat membeli produk mereka. Itulah taktik yang dilancarkan para kapitalis untuk mengeruk keuntungan besar di akhir tahun. Lalu, apa hubungannya dengan judul post ini?
Baca terus…

Muka Pendidikan Indonesia Tercoreng Lagi

sumber: Kompas.com


Akhirnya setelah sekian lama tidak menulis post tentang edukasi lagi, kali ini ada berita yang menarik perhatianku di Kompas.com yaitu kasus SMA 6 Jakarta. Seperti inikah muka pendidikan Indonesia? Bukan bermaksud menggeneralisir, tapi itulah kenyataannya. Siswa-siswa remaja yang dibesarkan di kota metropolitan yang kekurangan lahan tidak mempunyai outlet untuk menyalurkan tenaganya. Akhirnya tawuran deh. Yang lebih aneh lagi adalah mengapa tawuran itu sampai menjadi tradisi? Mungkin memang sentimen antar siswa. Tapi, bagaimana dengan lokasi sekolah itu sendiri?

Baca terus…

Facebook Menelan Korban (Lagi)!

Hari ini aku kebetulan membaca koran pagi dan menemukan berita mengenaskan lagi. Kejadiannya berawal dari hal konyol tapi sudah menjadi santapan wajib masyarakat kita yaitu Facebook. Hanya gara-gara sebuah komentar, dua desa terlibat tawuran. Parahnya, hal ini terjadi di Bali, tanah kelahiranku. Aku mencari beritanya di Kompas, dan berhasil menemukannya, meskipun agak pendek. Hanya gara-gara tidak tahu cara menggunakan jejaring sosial, nyawa harus melayang.
Baca terus…

TKI ke Arab, Apa Masih Perlu?


Kasus TKI semakin ramai saja dibicarakan di media massa. Sejak pemancungan terhadap Ruyati, kini banyak TKI lain dikatakan menunggu nasib yang sama. Saya memang bukan pejuang HAM, tapi setelah membaca cerita para TKI tersebut dari media massa, saya mulai memikirkannya. Saat membaca berita di Kompas, saya menemukan sebuah berita yang cukup mewakili apa yang ingin saya sampaikan. Inilah beritanya langsung dari sumber.
Baca terus…