Arsip Blog

Memahami Pop Sub-Culture: Kerumitan yang Disengaja

Berawal dari sebuah diskusi kecil di Twitter yang benar-benar singkat, aku jadi ingin menulis post ini. Semuanya berawal dari tweet ini:

Dan kemudian aku menerima beberapa penjelasan dari dua orang berbeda, di mana salah satunya adalah penggemar K-Pop asli dan yang satunya setengah Japan setengah Korea. Gara-gara ini, aku jadi kepikiran, mengapa antar 2 sub-culture ini mesti memiliki banyak kata-kata berbeda yang seharusnya bisa berarti sama? Kenapa tidak membuat satu kata yang seragam untuk digunakan?
Baca terus…

Iklan

Nasib Menjadi Golongan Minoritas

Aku hanya ingin sedikit berbagi tentang sedikit kejadian dalam kehidupan nyataku. Aku seorang otaku, suka anime dan semua yang berhubungan dengan Jepang. Bisa dibilang kalau aku itu Japanese wannabe. Tapi, lama-lama aku ngerasa jauh dengan teman-temanku karena sedikit sekali yang suka anime, terutama teman-teman sekelasku. Aku susah berbicara dengan mereka karena keseringan mereka membicarakan hal-hal macam sepak bola dan sejenisnya, pokoknya semua bidang yang tidak terlalu aku senangi. Bukan salah mereka suka bidang-bidang seperti itu, namanya juga remaja ada saja yang disukai, tapi aku tidak terlalu berminat dengan kesenangan mereka jadi sangat susah mencari bahan obrolan. Susah mencari sesuatu yang bisa mengikat. Kadang kalo aku bicara anime, semuanya pasti tidak mengerti sedikitpun.

Akhirnya aku mencari orang-orang yang mempunyai hobi sama, anime. Dan akhirnya aku temukan. Kita sering ngobrol-ngobrol di sekolah tentang anime-anime yang baru-baru, bagi-bagi tugas download episode anime lalu membaginya, chatting melalui group kami di Facebook (kalau Anda mau join, silakan klik disini. Saya adminnya.), dan kumpul-kumpul membahas masalah jika ada yang punya. Rasanya memang menyenangkan mempunyai teman-teman sehobi. Tapi tetap saja ada yang mengganjal yaitu terkadang menjadi golongan minoritas itu susah diterima oleh kebanyakan orang.

Yah, mau gimana lagi, wajar saja yang minoritas tersingkir. Teori Darwin juga bilang begitu. Tapi, nikmatnya ada pada diri sendiri yaitu menikmati hobi dan kesenangan bersama teman-teman yang sehobi juga. Itu saja. Memang suara kaum otaku tidak akan bisa mempengaruhi orang banyak, apalagi otaku dikonotasikan negatif. Jangankan otaku, anime saja masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat kita. Tapi aku tidak menghiraukan semua itu. Anime adalah penyokong hidupku, satu-satunya pelarian dari dunia nyata saat dunia melawanku.

Mungkin hanya sekian saja dulu, hanya ingin menuangkan unek-unek sedikit 🙂