Arsip Blog

Sword Art Online Episode 3: Sachi and the Red-Nosed Reindeer


Okay, saat melihat preview episode 3 di akhir episode 2, aku sangat tertarik untuk menonton episode 3. Pertama, karena dalam novelnya, chapter ini adalah sebuah side story yang cukup penting, karena side story ini menjelaskan mengapa Kirito lebih memilih menjadi solo player. Kedua, karena Sachi. Siapa Sachi? Lihat gambar ini.

Sachi

Sayangnya, setelah aku nonton episode 3, aku sedikit kecewa karena plotnya dipercepat, meski intisari ceritanya masih ada. Jadi karakter Sachi hanya muncul sebentar saja dan tidak meninggalkan bekas. Bagi yang hanya menonton animenya dan sama sekali belum pernah membaca light novel-nya, mungkin scene yang di pertengahan cerita akan sangat mengharukan, namun bagi yang sudah membaca novelnya, pasti akan merasa kalau Sachi hanya “numpang lewat” saja. Seharusnya side story ini dipecah jadi 2 episode, 1 episode untuk mengenalkan Sachi dan 1 episode untuk memperlihatkan perjuangan Kirito demi Sachi.

Oke, mungkin aku tidak akan memberikan banyak spoiler karena episode ini masih cukup bagus meski plotnya terlalu cepat. Singkat cerita, Kirito sudah mencapai level 40an dan sudah diajak masuk sebuah Guild yang bernama “Black Cats of the Full Moon”. Dalam Guild ini, Kirito bertemu dengan Sachi, seorang cewek yang sedang berlatih menjadi tanker meski itu bukan keinginannya. Sebenarnya Kirito enggan masuk Guild, tapi akhirnya ia diterima menjadi anggota Black Cats.

Anggota Black Cats menerima Kirito

Cukup sampai sini saja aku berikan ceritanya. Beneran deh, daripada membaca ini, lebih baik menonton episode 3 tanpa spoiler sama sekali. Ceritanya bagus dan mungkin menyentuh, apalagi bagi para fans Sachi. Bahkan dalam novelnya, aku sendiri merasa ini adalah side story yang sangat, sangat bagus. Oh ya, aku lupa bilang kalau dalam episode ini, skill Kirito yang bernama “Tracking” akhirnya muncul! Skillnya persis seperti Ezio (Assassin’s Creed) saat memakai Eagle Sense! Tunggu apalagi? Tonton cepat!

Kirito memakai skill “Tracking”. Seperti Ezio Auditore di Assassin’s Creed.

Scene setelah ini benar-benar mengharukan